Posted in My Days

Debate (again and again)

Okeeeh…
Debat english lagi nih 3 hr lagi! Yak yak….
Pusing ane! Lagi sibuk ulangan harian, malah d suruh ikutan debat! Akh, g papa lah. Wkwkwk…emang susah jd org keren! Org beken selalu d cari2

So, berhubung ank klas 3 abis UN, jadi motion ny (lagi dan lagi) tentang ‘penting ny UN’

Motion : This House Believes That the national exam support the quality of our education

Well, aku ada d negative team. Jd, aku refuse motion d atas. Well, sperti yg ku blng d post dulu-dulu. Ada juga yg ngangkat motion ini.Cm pas wktu itu, kami dpet yg affimative. Soo…beda lagi.
Nah…td siang mkir-mkir argumen apaan nih yg bkal ku bawa. Yg ‘nendang’ dan menohok si juri! Berhubung aku emang stuju dgn penghapusan UN, krna tdk sesuai dgn pri kemanusiaan dan pri keadilan. Ok, mulai ngaco.

Sblum ngasih argumen biasany kan ngasih definisi dlm sudut pandang tim masing2. So, our definition about this motion is…

National examination isn’t support and not the right way to support the quality of our education

And…
Jd, here they are (my reasons)

1. It spend so much money, but the result and product (quality of student) is not comparable. Almost hundred billion rupiah, last year. Weew

Buang2 duit aje nih pemerintah kita. Mending kalo bneran pure. Nah ini?? Adaaa juga yg korup. Halah, dana UN menciptakan lowongan korup baru. *geleng2 kepala*

2. As we know, there are 3 aspects (K, E, P). In national exam, it just examine our kognitif. And only with 1 aspect, there’s so many students can’t pass the exam. So, how about the other? My opinion is, if we want to increase our quality of education, we have to exam all of aspects. And, national exam only give 1 aspect.

Jadi, kan ada aspek kognitif, psikomotor, afektif. Nah, kata si guru aku, UN itu cm nge test kognitif doang. Pdahal, 33 ny penting tuh!

3. It’s impossible to have one national standardization in Indonesia. Because, as we know…infrastucture and tool in every school in Indonesia isn’t same. For example, schools in JKT has good quality (in sector of teacher, infrastructure, tools, etc). It’s different from schools in isolated district which has bad quality of that sectors. So, I think, it’s better to use that money to inicrease the quality of sectors. From, if we iuse that money to hold UN.

Byangin deh…skolah2 d Indonesia itu kan g sma. Kualitas guru yg ngajar beda, text book ny mungkin juga bda (lengkap ato g lngkap),, sarana dan prasarana skolah ny juga beda. Misal ny skolah si A menunjang ada ny lab bhasa dan lab komputer. Nah, d skolah B, g ada tuh lab bhasa ato komputer ny dikit. Nah, itu kan bisa menurunkan semangat pelajar!!! *Ngacoo*

4. As we know, our curriculum change from KBK to KTSP. KTSP here mean government give rights and freedom for schools and teachers to evaluate their own students. Indirectly, it mean that UN not have to do. Actually,UN is contadiction with policy region autonomy, like in law number 22, in 1999. Implementation policy of UN resmbling with policy region autonomy. At the same time, there’s school autonomy pass through management, that is base school. Evaluation should become right and responsibility’s region, included school. But, implementation Un make school autonomy become slightly, Besides, I think only teachers who really know how far their students’s development in study, can they do that or can they understand this. Only teachers determine passing an exam. So, if goverenment still do the national exam, it’s useless.

Nah…jadi mnurut ku, yg berhak mnentukan pantas ato g ny murid lulus itu adlh sang guru. Soalny, mreka lah yg paling tau gimna si murid2 pas blajar kan??? Soal ny UN itu mnurut aku untung-untungan. Kalo soal ny mudah, yaa syukur. Klo sulit, yaa mampus. Example nih, tmen ku itu geblek banget. Suka bolos, loading ny lama, males nyatat. Tp, pas UN smp kmaren, rata2 nilai dia melejit dahsyaaat! Dr nilai2 pas TO dji-sam-soe smuaa, pas UN beuh…8 smua! Gileee…g adil bgt!! Org udh mati2an blajar, dia cm dgn modal janji manis dan kertas burem. Haiaa….

Udah. Baru segitu yg sanggup aku pikirkan. Omaigat…gimna nih? Alasan ny kok ngaco smua y??? Adoh, desperate deh…huhuhu


Buntu kepala ane….TT-TT

Hohoho…gundah gulana melanda negri ini. Actually, sdh lma aku mikir…apa sih penting ny UN? Hmm…blajar udah 3 taun. Mati2an, tp bs ancur lebur dlm wktu singkat. Kta ny, suapaya bs ningkatin kualitas pendidikan. Tp bukti ny maneeee??? Gimna mo ningkatin pndidikan, kalo emang pemerintah ny yg slh ngasi solusi. Akh, stop Mi!

SO, bagi kalian para readers…plis help me solve this problem. Aku minta masukan nih, pendapat2 kalian, opini2, pandangan2 (pda dsar ny satu inti)…

Okeeh??

12 thoughts on “Debate (again and again)

  1. Kyaaa pertamax!!
    Mmm… Pas mnjelan UN, bakar aja skulny!!πŸ‘Ώ
    Hha..
    Tp tetep ada y, UN susulan,
    Eh eh..
    Dnger gak?
    Ktnya ada siswa yg meninggal sehabis pelaksanaan UN loo..
    Gtw gmana itu..

  2. @ sakuzo
    Jangan….kita curi aja soal nya!!!
    Oh ya?? Ninggal krna apa? Kalo d skolah ku kmaren, banyak yg nangis darah.

    Hmm….aku mungkin juga bkal mempertimbangkan hal itu. I mean, kalo misal ny g lulus, maybe aku bkal harakiri…

  3. UN terbukti melancarkan pengeluaran siswa, dan terbukti cukup memberi polisi beberapa kerjaan untuk dilakukan.πŸ˜›

    [/satir]

    Ujian Nasional memang kurang menunjukkan proses sih.. lebih ke output. Padahal pendidikan itu yang penting prosesnya. Di sekolah saya aja ‘proses’-nya masih kacau balau…

  4. @ pandu
    *toss*
    Tauk tuh..buat apa blajar mati2an kalo ujung2 ny banyak yg g jujur. Apalgi yg kek Pandu critain td, guru ny sendri yg g jujur! Huh

    @ xaliber
    Yoohoo…iya iya! Proses ny aja g jelas gitu, banyak kecurangan. G beres…

  5. Let’s see.. kalo soal Pendidikan sih ya…

    Di Indonesia ini orang2 itu disamain dan digeneralisasikan dalam bidang-bidang yang sama padahal kan di luar negeri sono kita bisa ngambil kelas2 yang kita suka dan kita minati (tentu saja ada kelas2 wajib macam math and language).

    So di negara kita yang imut2 ini… pendidikan cuma menghasilkan dua jenis lulusan.. yang pinter (diatas point) dan yang bego (dibawah point) udah deh
    padahal kan orang2 kan ga bisa dinilai dengan cara seperti itu… pendidikan harusnya menunjukan seseorang unggul di bidang apa dan membuat mereka percaya diri untuk maju kedepan dalam kehidupan mereka dengan apa yang hebat dari mereka, dan mencoba menutupi kekurangan mereka… atau mungkin menghilangkannya… ato kalo susa mencoba hidup dengan kekurangan itu….

    ** nyambung ga sih? **

    You see, UAN mungkin bagus toh yang diujiankan memang penting.. Matematika, Bahasa dan pengetahuan IPA / IPS itu penting!!! tapi bagaimana dengan pelajaran lain? dalam semingu seorang Average anak SMP or SMA mesti hadapin average 10 jenis pelajaran berbeda dan mereka dituntut untuk excel disana padahal mereka belum tentu minat ma bidang itu kan?… owh pleeez! penjurusan IPA IPS itu uda terlalu old-fashioned..

    ** hosh… hosh (minum dulu) **

    Lagian soal… UAN, sekarang UAN cuma jadi prestise… coba liat sekolah malah jadi berlomba2 nargetin tingkat kelulusan yang tinggi.. sampai menggunakan berbagai “cara”.. ironis eh?

    ** hosh… hosh (minum lagi) **

    From my point of View, school is the place where we grow, where we learn to socialize, where we feel pain and happiness together with our friends. Where we fall in love, where we feel love or broken-heartπŸ˜‰ that’s where we learn about life…
    That’s where we learn about the basics, where we should learn where we will go, where we learn about ourself by looking trough people’s perspective. where we learn that even though we’re not good at one thing, but we’re better on another thing… So when we graduate, we smile when we look back and move on with what we have, where we realize that we’re small, stupid and need another people to move on.

    ** bener-bener ga nyambung **

  6. Wkwkwk…
    Eru, aq g ngrti. Dkit2, bs d cerna. Ribet jg trnyataaa…

    Inti ny stju g sih un itu men support edukasi kta??

    Dan, kok nymbung k love2 an sgala? Hihi…

    *smbil mnum jg, menganalisis komen eru*

  7. @eru
    komennya bisa jadi judul sendiri tuwhh
    .
    @ami
    sekolah itu mendidik manusia agar mampu menjalani hidupnya sesuai dengan kemampuannya.
    dan berhubung kemampuan manusia itu berbeda dan banyak faktor yg mempengaruhinya…
    UN belum bisa menjadi alasan lulusnya seseorang atau tidak…*bisa jadi pas UN, si murid sakit ato blababa*

    simplenya gini kali ya…
    di kita orientasinya IQ doank dan IQ cuma berperan 20% dari hal yg menyebabkan suksesnya seseorang…
    tapi kemampuan lainnya seperti kemampuan bergaul, kemampuan mengungkapkan pendapat, kemampuan menyalurkan emosi, kemampuan musik, kemampuan akting dan blalabla…punya peran yg sangat penting…

    *mengutip andrea*
    “school is the university of life”

    heheh..kapan ya…murid bisa milih subject sendiri…πŸ˜€

  8. Yang pertama soal sekolah dan pendidikan….
    muridnya jangan dikasih mojok di belakang and asyik sendiri tuh….
    **ditendang pulang*** hahahahaha

  9. @ nai
    Setujuuuu!!! *toss ama Nai*
    Iyeee…school is the university of life…Tengkyuu!!

    @ sella
    Hmmm….untung aku g punya guru kek sella. Kalo iye, bisa gawat. G bisa ngenet diem2 d pojok niiih…^^

    @ atrix
    Hmm…kok cm komentar gituu? Argumen nyaaa?
    *d jitak atrix*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s